Lynx mengangkat kedua bahunya santai. "Aku tidak tahu. Aku baru sadar pagi ini. Aku kira memang kita tinggal di tempat ini," katanya sambil menahan tawa melihat ekspresi kebingungan Jelita yang lucu.

"Sepertinya aku ketularan hilang ingatan seperti Kepala Suku," jawab Jelita sambil tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kecemasannya. "Kalau begitu, aku akan mencari tanaman herbal dulu agar bisa kita jual untuk mendapatkan uang."

Namun Lynx tiba-tiba berubah serius. "Jelita," katanya dengan suara tegas, "kamu tidak perlu mencari tanaman herbal lagi. Ingatanku sudah pulih, jadi kamu tidak perlu bekerja keras lagi untuk membelikanku obat. Dan satu lagi, kamu bisa tetap memanggilku dengan Xiao Lin agar tidak membingungkan penduduk di sini."

Jelita terdiam, rasa bahagia menyelimuti hatinya. "Benarkah? Kepala Suku sudah benar-benar pulih?" pikirnya. Namun, rasa penasaran kembali menyelinap. "Tunggu," katanya sambil menyipitkan matanya, "kenapa Kepala Suku tahu soal obat? Dan kenapa tidak heran kita ada di sini?"

Lynx tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, kebiasaan lamanya. "Aku berpikir, dengan sifatmu yang selalu peduli, pasti kamu akan berusaha mencarikan obat untukku," jawabnya ringan.

Lynx kemudian berdiri dan mengeluarkan sebuah roti dari cincin penyimpanan di jarinya untuk mengalihkan perhatian Jelita. "Makanlah. Roti ini seharusnya masih enak," katanya sambil menyerahkannya ke Jelita.

Jelita menerima roti itu dengan bingung. "Kepala Suku, bagaimana roti ini bisa tiba-tiba muncul? Dan roti ini... kenapa sama persis dengan roti yang sering kita buat di Kampung Surya?" tanyanya heran, matanya memandangi roti itu dengan teliti.

Lynx tersenyum dan menunjukkan cincin di jarinya, yang sebelumnya ia lepas dari kalung yang selalu dipakainya. "Ini namanya cincin penyimpanan. Di dunia ini, benda seperti ini banyak digunakan," jelasnya santai.

Jelita menatap cincin itu dengan kagum. "Kepala Suku, kenapa kamu bisa tahu tentang dunia kultivasi?" tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih serius, penuh rasa ingin tahu. Sebelumnya, ia pernah mendengar cerita sekilas dari Nyonya Yun, tetapi wanita tua itu sendiri tidak terlalu paham detailnya.

"Aku punya cara untuk mengetahui banyak hal," jawab Lynx sambil tersenyum. "Apa kamu lupa? Dengan kekuatanku, aku bisa menemukan para penduduk kita dan membawa mereka ke dimensi ini. Aku juga menggunakan kekuatan itu untuk memahami dunia ini sedikit demi sedikit. Dan seperti yang sudah aku katakan, panggil aku dengan Xiao Lin selama kita berada di dimensi ini agar tidak menimbulkan kecurigaan."

Jelita mengangguk, memikirkan kata-kata Lynx. Ia sudah menyaksikan sendiri bagaimana pria di depannya ini menciptakan keajaiban berkali-kali. Meski bingung dan banyak pertanyaan, ia memutuskan untuk mempercayai Lynx sepenuhnya.

"Baik, Kepala Suku. Aku akan memanggilmu Xiao Lin," katanya akhirnya, nada suaranya penuh keyakinan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Mula-mula, makanlah dahulu. Setelah itu temani aku keliling desa ini," kata Lynx sambil mengeluarkan makanan lainnya dari cincin penyimpanan.

Saat menatap makanan yang ia keluarkan, Lynx tanpa sengaja melihat benda-benda asing yang tersimpan di dalam cincin itu. "Sepertinya barang-barang ini milik leluhur Monrest," pikir Lynx dalam hati. "Aku akan memeriksanya nanti."

Mereka pun mulai makan bersama. Jelita menikmati makanan tersebut dengan senyum di wajahnya. "Makanan ini sangat enak sekali," katanya sambil mengambil suapan berikutnya. "Aku jadi merindukan semua penduduk Surya," tambahnya dengan suara yang sedikit melamun.

"Wah, roti ini... Aku sering memakannya bersama ayahku," katanya sambil mengingat kenangan-kenangannya saat di pulau bersama keluarganya. Sejak tinggal di kampung Surya, banyak makanan-makanan baru yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.

Lynx tersenyum kecil melihat Jelita makan dengan lahap. Ia teringat bagaimana selama ia hilang ingatan, Jelita selalu mengutamakannya. Setiap kali ada makanan enak atau uang lebih, Jelita akan memberikan semuanya untuk Lynx, baru memakan sisanya jika masih ada.

"Aku akan menjagamu sebaik mungkin, Jelita," pikir Lynx dalam hati, tatapannya penuh kehangatan. Namun, di balik pikirannya, dia bertekad kuat, "Kecuali untuk hal yang satu itu. Kamu layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik."

Selesai makan, Lynx berdiri dan meluruskan tubuhnya yang terasa sedikit kaku setelah duduk terlalu lama. "Jelita, ayo kita kembali ke desa. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini," katanya sambil menepuk lembut bahu Jelita, memintanya bersiap.

Selama perjalanan menuju desa, Jelita dengan semangat mulai bercerita tentang masa-masa sulit yang mereka lalui. Lynx mendengarkan dengan seksama, meskipun ia pura-pura tidak mengetahui sebagian besar cerita yang disampaikan.

"Setelah kita terpisah dari yang lain, aku terbangun di tengah hutan dan menemukanmu tergeletak pingsan," ujar Jelita dengan suara lembut. "Aku menggendongmu sejauh yang aku bisa sampai menemukan pondok kecil tempat tinggal Nyonya Yun. Dia adalah seorang wanita tua yang hidup sendirian. Dia yang memberi aku nama Yun Qing."

"Yun Qing, ya?" Lynx mengangguk pelan. "Lalu, siapa yang memberiku nama Xiao Lin? Apakah itu juga Nyonya Yun?" tanyanya, pura-pura penasaran.

Jelita menggeleng sambil tersenyum kecil, tampak sedikit malu. "Tidak, itu aku. Awalnya, aku memikirkan nama Xiao Ling. Xiao dari nama leluhur kami, Xiao Tang, dan Ling dari namamu, Kepala Suku. Tapi karena aku belum terbiasa dengan nama baru itu, aku sering salah mengucapkannya menjadi Xiao Lin. Akhirnya, nama itu yang terus kita gunakan."

Lynx terdiam sejenak, memikirkan penjelasan itu. "Kamu tahu nama leluhurmu Xiao Tang dari mana?" tanyanya penasaran.

"Suku kami selalu mengingat nama leluhur kami," jawab Jelita. "Ada banyak barang peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Barang-barang itu adalah bagian penting dari tradisi dan identitas kami."

Lynx mengangguk pelan, merenungkan penjelasan Jelita. "Xiao Ling sepertinya terdengar lebih baik," pikirnya dalam hati, tapi dia tidak mengungkapkannya. Dia tidak ingin Jelita merasa bersalah atas pilihan nama itu.

Beberapa saat kemudian, Jelita mengubah topik pembicaraan. Dia melirik Lynx dengan ragu, lalu bertanya dengan suara pelan, "Kepala Suku, apakah kita masih harus berpura-pura sebagai suami istri? Semua orang di desa Lianhua ini sudah menganggap kita seperti itu."

Lynx menoleh, menatap mata Jelita yang dipenuhi harapan. Dia tahu bahwa pertanyaan itu memiliki bobot emosional yang besar bagi Jelita. Namun, dia tetap menjaga nada suaranya tetap tenang. "Selama kita masih di Desa Lianhua, aku setuju untuk terus berpura-pura sebagai suami istri. Itu akan memudahkan kita dalam berinteraksi dengan penduduk di sini."

Jelita mengangguk, meskipun di dalam hatinya dia merasa kecewa. Dia berharap Lynx tidak hanya berpura-pura. Dia bahkan tidak keberatan jika Lynx memperlakukannya sebagai istri sungguhan. Dalam tradisi sukunya, seorang pria memiliki banyak istri adalah hal yang biasa, terutama untuk seseorang seperti Lynx yang memiliki kedudukan tinggi. Semakin banyak keturunan, semakin besar kekuatan suku mereka.

Namun, Lynx melanjutkan dengan nada tegas, "Tapi setelah kita meninggalkan desa ini, aku ingin kita mengubah status kita. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman atau ketidaknyamanan di masa depan."

Mendengar itu, hati Jelita terasa semakin berat. Dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan kekecewaannya. Sementara itu, Lynx dalam hati bergulat dengan pikirannya sendiri. "Aku tidak ingin menyakiti Leena. Di sisi lain, aku juga tidak mau memberikan harapan palsu pada Jelita."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hening, masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Di satu sisi, Jelita berusaha menerima kenyataan, sementara di sisi lain, Lynx terus mencari cara untuk menjaga keseimbangan perasaan keduanya tanpa melukai siapapun.

Sesampainya di desa, Jelita menatap kaget ke arah rumahnya yang hancur berantakan. Jeritan kecil keluar dari mulutnya. "Tidak... rumah ini... ini kenangan dari Nyonya Yun!" suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

Dengan langkah cepat, Jelita mendekati rumah itu, sementara Lynx mengikutinya dari belakang. Para penduduk desa yang berdiri di sekitar reruntuhan tampak memperhatikannya. Sebelum Jelita sempat membuka mulut untuk bertanya, salah seorang penduduk mendekat.

"Yun Qing, apa yang terjadi? Kami tidak menemukanmu atau suamimu di rumah ini. Kami pikir sesuatu telah terjadi pada kalian berdua," ujar pria tua itu dengan nada khawatir.

